Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » , , » Pendidikan Nuklir di Indonesia Belum Ngetren

Pendidikan Nuklir di Indonesia Belum Ngetren

Pendidikan dan pengenalan teknologi nuklir di Indonesia belum populer. Padahal, teknologi nuklir bermanfaat dalam berbagai bidang.
JAKARTA - Teknologi nuklir sebenarnya memiliki banyak manfaat. Namun, pemahaman masyarakat umum tentang nuklir masih sebatas penyalahgunaannya sebagai bahan pembuat bom.

Minimnya pendidikan dan pengenalan teknologi nuklir makin mengukuhkan miskonsepsi tersebut. Padahal, menurut pengamat nuklir dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Susetyo Hario Putro, M.Eng, , edukasi memegang peranan kunci dalam pengembangan teknologi nuklir di Indonesia.

"Selama ini masyarakat belum diedukasi secara lebih baik terkait pengenalan teknologi nuklir. Kita lihat di kurikulum di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, minim sekali dengan tekologi, berbeda jauh dengan negara maju yang sudah mengenalkan nuklir sejak usia sekolah dasar," kata Susetyo, seperti dikutip dari keterangan tertulis UGM, Senin (1/9/2014).

Edukasi ini, termasuk sosialisasi, tidak cukup melalui media internet saja. Pasalnya, tidak semua lapisan masyarakat dapat mengakses informasi pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.

Pemerintah, kata Susetyo, sebaiknya lebih menekankan pengembangan kurikulum teknologi nuklir di sekolah. Susetyo menilai, edukasi dari masyarakat lapisan bawah juga akan membuat pemahaman tentang nuklir jauh lebih baik.

"Selama ini kita hanya mengenal nuklir dari pelajaran sejarah, bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, sehingga ketakutan yang muncul," imbuh pakar teknologi limbah nuklir, Jurusan Teknik Fisika UGM itu.

Salah satu upaya pemerintah dalam menebarluaskan perkembangan pemanfaatan teknologi nuklir adalah dengan membuat Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir (MPTN). Majelis ini dibentuk oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dengan tujuh anggota dari kalangan pakar, akademisi dan tokoh masyarakat.

Asisten Deupti Iptek Masyarakat, Drs. Sadyatmo, M.T., menjelaskan, lembaga independen tersebut akan berada di bawah komando langsung presiden. Tugasnya, memberi pertimbangan terkait pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.

"Dalam waktu dekat akan dibentuk panitia seleksi, dalam tiga hingga enam bulan ke depan lembaga ini akan terbentuk," tutur Sadyatmo.

Dia memaparkan, teknologi nuklir tidak hanya dipakai untuk pembangkit listrik. Nuklir juga sudah dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti pangan, kesehatan dan obat-obatan. Dalam bidang pangan, ada varietas beras Si Denok yang merupakan produk unggulan dari hasil rerakaya genetika lewat teknologi nuklir

Sadyatmo mengakui, pemanfaatan nuklir belum maksimal. Masih ada pro kontra terkait pemanfaatan teknologi nuklir di bidang pangan dan kesehatan. Sedangkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) juga belum terealisasi.

"Tidak mudah untuk membangun PLTN. Selain dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang handal serta anggaran yang tidak sedikit, Indonesia juga dihadapkan pada aturan regulasi yang ditetapkan oleh Badan tenaga Atom Internasuinal (IAEA)," imbuhnya.

Sementara itu, menurut Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN, Susilo Widodo, kemampuan Indonesia membangun PLTN sudah cukup pesat. Sayangnya, pemerintah tidak menunjukkan keseriusan dalam mendorong percepatan proyek tersebut.

Dia mencontohkan, Vietnam sudah memiliki program membangun enam PLTN. Mereka sudah merampungkan desain dan semua prosedur yang diperlukan.

"Padahal secara kesiapan infrastruktur, kita lebih maju dari mereka. Saat ini kesiapan Indonesia membangun reaktor nuklir memasuki tahap kedua. Sedangkan untuk menuju tahap ketiga dan keempat pemerintah perlu melengkapi regulasi terkait jaminan mutu dan standarisasi," papar Susilo.


sumber : okezone
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen