Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » Sukhoi Oh Sukhoi

Sukhoi Oh Sukhoi

Kamis, 10/05/2012 14:29

Nama Sempat Tak Ada di Daftar, Ganis Dikira Tak Ikut Naik Sukhoi

Jakarta Duka dialami keluarga Ganis Arman Zuvianto, salah satu penumpang pesawat Sukhoi yang jatuh di Gunung Salak, Jawa Barat. Nama Ganis sempat tidak ada dalam daftar penumpang sehingga keluarga mengira dia tidak ikut naik pesawat.

"Pak Ganis sempat tidak ada di daftar nama penumpang jadi kami kira dia tidak ikut, tapi kemarin dikabari ada, jadi kami sangat shock," kata Alfi, sepupu Ganis, di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (10/5/2012).

Alfi mengatakan Ganis merupakan koordinator sekretaris di Indonesia Air Transport (IAT). Dia mendapatkan undangan dari Sukhoi untuk menjajal pesawat penumpang anyarnya. "Dia cerita mau mencoba Sukhoi ke istrinya," katanya sambil
menyeka pipinya dari air mata.

Alfi sudah memberikan data-data fisik Ganis kepada petugas Disaster Victim Identification (DVI). Keluarga mengaku ikhlas atas kejadian itu karena merupakan musibah. "Kita ikhlas," katanya pelan.

Istri Ganis, Clarisa, juga sudah ada di Bandara Halim. Ia terlihat shock dan terus menangis. Sedangkan anak perempuan Ganis, Farel, yang masih duduk di kelas 1 SMP juga ikut menangis di sisi ibunya.

Karena Feeling, Syafruddin Ajak Budi Rizal Turun dari Sukhoi

Jakarta Hidup dan mati seseorang adalah misteri. Seharusnya Budi Rizal dan Syafruddin ikut joy flight kedua Sukhoi Superjet 100. Keduanya sudah berada di dalam pesawat yang sebentar lagi terbang. Namun karena feeling, Syafruddin mengajak Budi Rizal turun. Mereka pun selamat dari kecelakaan pesawat itu.

"Feeling saja, Mas," ujar Syafruddin kepada detikcom di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (10/5/2012). Hal itu disampikan dia ketika ditanya kenapa tiba-tiba memutuskana turun dari pesawat.

Hari ini Syafruddin bersama Budi Rizal datang ke Bandara Halim karena akan mengklarifikasi bahwa mereka tidak ikut penerbangan tersebut. Klarifikasi dilakukan setelah mereka melihat namanya di dalam daftar manifes penumpang yang dirilis oleh PT Trimarga Rekatama dan disebarluaskan oleh media massa.

Budi Rizal mengatakan, sesaat sebelum penerbangan, dirinya memang ada di dalam pesawat. Dia bahkan sempat berbincang-bincang dengan pilot dan kopilot yang berkewarganegaraan Rusia.

"Saya sempat naik pesawatnya dan berbincang dengan pilot kopilot, tanya-tanya soal kokpit dan sebagainya soal pesawat. Lalu teman saya, Syafruddin, nggak tahu kenapa minta turun, kayanya feeling saja. Saya terkejut karena nama saya ada di media," terang Budi.

Dengan klarifikasi dari kedua orang ini, maka ada 5 orang yang namanya ada dalam manifes ternyata tidak ikut dalam joy flight. Sehingga sejauh ini ada 45 orang yang ikut penerbangan, 8 di antaranya merupakan kru dari Rusia.

5 Orang yang yang menyatakan tidak ikut dalam joy flight kedua pada Rabu (9/5):

1. Budi Rizal (Putra Artha Dirgantara)
2. Syafruddin (Carpediem Mandiri)
3. Andika Monoarfa (Sigap Dasa Perkasa)
4. Suharso Monoarfa (Manhattan Group)
5. Edy Saryoko (Gatari)

Ini Dia Serpihan Sukhoi di Tebing Gunung Salak

Jakarta Badan SAR Nasional (Basarnas) telah menemukan serpihan pesawat komersial Sukhoi Superjet 100 di tebing Gunung Salak. Dalam jumpa pers di Halim, Kamis (10/5/2012), Basarnas juga menunjukkan foto tersebut.

Foto itu menggambarkan serpihan warna putih yang dari kejauhan mirip bercak-bercak. Foto itu diambil dari helikopter yang melakukan pencarian.

Foto dalam resolusi lebih bagus bisa dilihat lewat akun twitter milik Marina Lystseva. Serpihan itu diapit pepohonan menghijau.

Basarnas meyakini pesawat itu Sukhoi yang dicari karena ada logo Sukhoi di tebing berketinggian 5.800 kaki itu.

Pesawat yang melakukan terbang promosi di Indonesia itu didominasi warna putih. Menurut data terakhir, pesawat itu berisi 45 orang, 8 di antaranya kru Rusia. Pesawat hilang kontak pukul 14.33 WIB, Rabu (9/5).

Firasat Keluarga Korban: Mimpi Melihat Selly di Tengah Kuburan

Jakarta Keluarga Maria Marceles (46), salah satu penumpang pesawat Sukhoi, memiliki firasat atas kejadian buruk yang menimpa Selly (sapaan akrab Maria). Adik Selly sempat bermimpi melihat sang kakak ada di tengah-tengah kuburan.

"Suami saya pernah mimpi ngeliat Selly di tengah-tengah kuburan," kata adik ipar Marcella, Ade Herni (36), sambil meneteskan air mata saat ditemui di terminal kedatangan bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/5/2012).

Selly adalah Koordinator Pramugari Sky Aviation. Ia ikut dalam penerbangan tersebut dalam rangka mewakili perusahaan Sky Aviation.

"Ia emang sudah biasa ikut penerbangan-penerbangan kaya gini, sebelumnya dia di Garuda. Sudah dari gadis jadi pramugari," papar Ade.

Ade terakhir melakukan kontak dengan Selly sepuluh hari yang lalu. Saat itu ia hanya bertegur sapa ringan menanyakan kabar.

Ade menuturkan bahwa suaminya, Riza (44), sempat bermimpi mengenai Selly. Riza, tutur Ade, bermimpi melihat Selly ada di tengah-tengah kuburan. "Itu mimpinya Sabtu malam Minggu (5/5), mungkin itu firasatnya. Terus suami saya nanya, ada apa ya?" tutur Ade.

Setelah itu Ade belum melakukan kontak lagi dengan Selly. Saat ini ia bersama keluarganya menunggu kabar dengan penuh harap di terminal kedatangan. "Saya hanya berharap yang terbaik," ujarnya sambil kembali terisak.

Bondan Winarno Sempat Ucapkan Selamat Jalan Sebelum Gatot Terbang

Jakarta Pembawa acara kuliner Bondan Winarno mencari kabar rekannya, Capt Gatot Purwoko dari Airfast yang ikut dalam penerbangan Sukhoi Superjet 100, di Bandara Halim Perdanakusumah. Bondan sempat menunjukkan foto Gatot Purwoko yang tersenyum.

Pantauan detikcom, Bondan datang ke Bandara Halim Perdanakusumah, Kamis (10/5/2012) sekitar pukul 12.00 WIB. Bondan datang untuk mencari kabar sahabat dan rekan bisnisnya Capt Gatot Purwoko di crisis center.

"Sebelumnya saya sempat mencoba mengontak beliau. Nadanya sambung tapi tidak ada jawaban.
Saya sebagai makhluk kecil apapun pasti selalu berharap keselamatan beliau," jelas Bondan yang mengenakan kemeja putih.

Bondan bercerita bahwa dia mengenal Gatot sejak tahun 1980-an, sejak Gatot masih menjadi pilot di maskapai Garuda Indonesia hingga ke maskapai yang sekarang, Airfast. Gatot juga menjadi teman di komunitas kuliner yang didirikannya, Jalansutra.

"Sejak 8 tahun lalu beliau juga ikut di komunitas saya di mana Capt Gatot juga merupakan rekan bisnis di usaha saya dengan sebagian saham yang masih tertanam pada usaha saya," jelas Bondan.

Bondan lantas mengeluarkan Blackberry-nya dan menunjukkan foto Gatot Purwoko. Foto ini juga diunggah Bondan dalam twitternya, @PakBondan.

"Orangnya selalu santun. Sekalipun bisa berbahasa Inggris bagus tapi selalu berusaha untuk berbahasa Indonesia jika berkomunikasi," jelas pemandu acara Wisata Kuliner ini.

Yang membuat dirinya yakin Gatot menjadi korban adalah dari data manifes penumpang. Kemudian Bondan sempat mengontak Gatot saat pesawat dikabarkan hilang kontak.

"Ya dari manifest korban memang beliau ada. Ketika saya lakukan kontak berkali-kali pun tidak ada respons. Tetapi karena baru ada kontak visual belum ada kontak fisik, saya terus berdoa semoga beliau dapat selamat," jelas Bondan.

Apakah ada firasat tentang Capt Gatot sebelumnya?

"Kemarin pagi sih saya masih sempat mengucapkan selamat jalan kepada beliau sebelum berangkat," jawab Bondan.

Bondan lalu menuju meja tim Disaster Victim Identification di Posko Halim menyerahkan data-data rekannya itu. Dalam twitter Gatot Purwoko, @gatotpurwoko disebutkan dalam profilnya: Bofet Maknyus, Jl Sultan Iskandar Muda 28B (arteri PI). Umaku Sushi. Decanter Wine Resto. Madeleine Bistro. Resky Greenhouse. Aviator. Certified Soccer Trainer

Korban Sukhoi Stephen Kamagi Politisi Demokrat

Jakarta Anamuwana (40) tidak menangkap firasat atas insiden Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Puncak Gunung Salak yang dialami suaminya, Stephen Kamagi (43). Ia bilang sang suami pengurus di DPP Partai Demokrat.

Dalam data manifes, Stephen tercatat sebagai salah satu dari 45 penumpang yang ikut dalam joy flight kedua pada Rabu 9 Mei kemarin. Stephen ditulis dari Indo Asia.

"Bapak itu sebenarnya bukan dari Indo Asia," kata Anamuwana di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (10/5/2012).

Wajah Anamuwana terlihat tegar. Ia membawa serta 2 puterinya yang masih kecil dan didampingi seorang adiknya.

Ibu 3 anak ini menceritakan Stephen diajak temannya, Edward Panggabean, ikut serta.

"Dia diajak temannya, Edward Panggabean, yang bekerja di Indo Asia untuk terbang kemarin," ujar Anamuwana yang menetap di Cimanggis, Depok, ini.

Menurut dia, Stephen sehari-hari membuka rental mobil dan menjadi pengurus di DPP Partai Demokrat di Jl Kramat VII.

"Dia itu menjelang keberangkatan terlihat senang sekali. Tiap pagi selama seminggu sebelum keberangkatan, dia terlihat terburu-buru dan senang," kata Anamuwana.

Anamuwana juga sempat mengantar Stephen. "Saya juga mengantar sampai di Indomaret. Tidak ada perasaan apa-apa," kata perempuan yang mengenakan baju batik warna abu-abu ini.

Percakapan Sukhoi-ATC Cengkareng Bisa Jawab Misteri Sukhoi di Salak

Jakarta Mengapa Sukhoi Superjet100 nekat turun di ketinggian 6 ribu kaki di kawasan Gunung Salak? Padahal gunung di kawasan ini berketinggian 7 ribu kaki. Akan sangat berbahaya bila pesawat turun di lokasi tersebut, karena pesawat bisa menabrak gunung.

"Itu juga menjadi pertanyaan saya, kenapa diizinkan turun dan mengapa minta turun. Tentu itu ada di percakapan dengan ATC Soekarno-Hatta, tapi nanti biar KNKT yang menyelidiki," jelas Sunaryo dari PT Trimarga Rekatama ini, saat dihubungi detikcom, Kamis (10/5/2012).

Semestinya, pesawat itu tetap berada di ketinggian 10 ribu kaki. Tetapi, mungkin saja, karena hendak mengambil ancang-ancang turun menuju Jakarta pesawat merendahkan ketinggian.

"Cuaca saat itu bagus di sana, makanya kita terbang ke sana. Pesawat masih bagus, tidak ada gangguan," terangnya.

Sunaryo menjelaskan, bila dilihat dari jam-nya, pesawat itu tengah dalam perjalanan pulang. "Nanti biar evaluasi KNKT saja," jelasnya.

Sukhoi tersebut take off dari Bandara Halim pukul 14.12 WIB, Rabu (9/5/2012). Pesawat terbang mulus hingga di atas Pelabuhan Ratu. Namun, saat kembali menuju Halim, ketika di atas Gunung Salak, pesawat yang saat itu terbang di ketinggian 10.000 kaki, diturunkan oleh sang pilot pada ketinggian 6.000 kaki.



sumber : detik
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    1 hari yang lalu

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen