Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » BI Jaga Rupiah agar tidak Melemah

BI Jaga Rupiah agar tidak Melemah

Minggu, 20 Mei 2012 | 16:49

JAKARTA - Beberapa pekan belakangan nilai tukar rupiah mengalami tren melemah bahkan sempat menyentuh ke level 9.355 per $US. Otoritas moneter Bank Indonesia (BI) mengatakan pelemahan terjadi karena sentimen yang terjadi di perekonomian global, khususnya yang terjadi di Eropa.

BI pula menegaskan pihaknya terus melakukan intervensi untuk menjaga agar pelemahan rupiah tidak terlalu cepat.

"Kalau dilihat hampir semua mata uang terjadi seperti itu (pelemahan nilai tukar). Harapan satu-satunya tidak ada yang bisa kita lakukan namun kita akan meneruskan agar menjaga jangan sampai rupiah melemah terlalu cepat. Makanya intervensi tetap kita lakukan dengan timing dan jumlah yang tepat, jadi tidak ada ini dilepas atau ditahan," jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono, di Hotel Grand Sahid, Jakarta, pekan lalu.

Ditanya bagaimana menjaga agar nilai tukar rupiah tidak melemah terlalu cepat, Hartadi menegaskan yang terpenting adalah menjaga ekspektasi jangan sampai rupiah terus melemah dengan memberi situasi yang kondusif bagi pemilik dana.

"Dibuat kepada para pemilik dana, yang comfortable. Ini hanya krisis Eropa, paling sebentar aja. Itu yang penting dan kemudian BI masih bisa menjaganya kok. Cadangan devisa negaranya kan cukup, gitu aja,"
ujarnya.

Ia pun optimistis intervensi yang dilakukan BI, rupiah akan kembali normal asal permintaan terhadap dollar tidak terlalu cepat sehingga tidak memicu ulah spekulan. "Kalau memang demand-nya tidak terlalu cepat naik dan tidak memicu spekulasi-spekulasi. Itu akan bisa kembali tenang, tidak dijual dolarnya atau tidak membeli dolar," tuturnya.

Hartadi menambahkan sentimen negatif terhadap perekonomian Eropa muncul berkaitan dengan berkembangnya wacana Yunani keluar dari zona Eropa. Jika Yunani keluar dari zona tersebut, akan berdampak besar pada perekonomian Eropa. Selain itu, kondisi Prancis dengan presidennya yang baru juga belum dapat memberi jaminan bahwa situasi perekonomian di Eropa akan membaik.

"Apakah dengan presiden yang baru akan berubah kebijakan terutama komitmennya terhadap austerity (penghematan) dari fiskal yang dulu jadi program utama Prancis dan Jerman. Ada komitmen namanya fiskal pack dari eurozone, nah kelangsungan dan komitmen itu yang kita belum tahu," jelasnya. Apalagi Jerman juga akan menghadapi pemilu tahun depan.

Hartadi menuturkan saat ini bank sentral masih menjalankan intervensi rupiah dengan operasional tool. Ia menilai BI belum perlu menggunakan satu langkah intervensi. Upaya tersebut baru akan dilakukan BI apabila situasi memburuk.

"Mungkin kita hemat-hemat saja amunisi kita, itu yang penting. Nanti pada waktunya pasti akan kita keluarkan kalau situasi memburuk," tutur Hartadi.

Meski demikian, ia menegaskan BI telah melakukan persiapan-persiapan apabila situasi ekonomi mulai memburuk. Dalam Rapat Dewan Gubernur kemarin, imbuhnya, selain intervensi di pasar valuta asing, BI berniat untuk menaikkann suku bunga instrumen moneter. Sinyal ini dimaksudkan untuk menarik investor untuk menyimpan dananya.


Dre@ming Post______
sumber : kompas
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen