Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » Berjalan Dipapah, Murid Mengaku Dianiaya Guru

Berjalan Dipapah, Murid Mengaku Dianiaya Guru

Jumat, 20 April 2012 | 11:29

Ismayani (11), korban dugaan penganiayaan gurunya, dipapah  neneknya
BULUKUMBA - Seorang murid kelas VI SD Negeri 124 Batuasang, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Ismayani (11) mengaku telah dianiaya oleh Nuraeni, guru wali kelas III dengan cara diinjak bagian paha korban saat sedang duduk bersila di lantai. Sebelum diinjak, pelaku sempat menampar kedua pipi korban. Akibat kejadian itu, korban mengalami sakit di bagian paha kiri hingga harus dipapah setiap kali berjalan.

"Keluarga baru mengetahui dari teman sekolahnya sendiri yang menceritakan saat anak ini masih dirawat di puskesmas karena tak kunjung sembuh. Kami pun kaget, dia tidak mau cerita karena katanya diancam sama gurunya tidak akan diluluskan sekolah jika melapor," kata Irma, ibu korban yang ditemui Kompas.com di RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, Jumat (20/04/2012) pagi.

Irma belum mengetahui apakah tulang paha kiri anaknya patah atau tidak. Menurut diagnosa sementara dokter setelah di-rontgen, diduga tulangnya patah, namun itu belum hasil final,. Menurut Irma, hasil diagnosa dokter umum di UGD akan dilanjutkan dengan pemeriksaan intensif dari dokter bedah. "Kita masih menunggu
hasil pemeriksaan lanjutan dari dokter bedah," jelasnya.

Sementara Nuraeni yang ditemui di ruang guru SD Negeri 124 Batuasang membantah keras jika dirinya telah menginjak paha dan menampar muridnya itu. Dengan mata berkaca-kaca, Nuraeni menceritakan bahwa Ismayani lah yang mengejek dirinya di depan teman-temannya dengan sebutan dalam bahasa Bugis, Sulawesi Selatan, parakang yang artinya manusia penghisap darah atau pemakan manusia.

"Siapa yang tidak kaget dan sedih jika dikatakan parakang oleh muridnya sendiri. Cerita itu saya dapat dari murid-murid lainnya. Sehingga saya memanggil Isma dan mempertanyakan apakah betul dia mengatakan seperti itu di depan teman-temannya yang lain? Tapi anak itu hanya diam. Lalu saya menyuruhnya untuk duduk bersila di lantai, tetapi saya tidak menginjaknya apalagi menampar anak itu," jelasnya.

Guru ini semula berniat untuk melaporkan ke polisi dengan kasus pencemaran nama baik, namun dihalangi oleh guru lainnya. Dalam kejadian ini, Nuraeni mengaku sudah bicara dengan keluarga korban dan akan menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan dengan menanggung seluruh biaya pengobatan korban.



sumber : Kompas
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen