Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » Bank Dunia Perkirakan Defisit APBN Indonesia Mendidih

Bank Dunia Perkirakan Defisit APBN Indonesia Mendidih

Rabu, 04 April 2012 08:09

JAKARTA - Bank Dunia memperkirakan Indonesia mengalami defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) jika kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dilaksanakan di kuartal ketiga 2012.

Lead Economist Indonesia Bank Dunia, Shubham Chaudhuri di Jakarta, Selasa (3/4) mengatakan, defisit APBN Perubahan sebesar 2,2 persen, naik dari 1,5 persen akibat naiknya subsidi energi dan belanja infrastruktur.

"Jika harga minyak rata-rata US$120
per barel selama satu tahun diperkirakan defisit anggaran bisa mencapai 3,1 persen dari PDB," katanya.

Ia menambahkan, perkiraan defisit anggaran sebesar itu didasari juga tanpa penyesuaian harga BBM atau 2,5 persen dari PDB jika kenaikan harga BBM bersubsidi dilaksanakan di kuartal ketiga 2012.

Ia mengatakan, adanya gangguan pasokan dan kekhawatiran terhadap geopolitik telah menyebabkan harga minyak internasional meningkat dengan tajam. Rata-rata harga minyak mentah Indonesia mencapai US$122 per barel dalam tiga bulan pertama 2012.

"Asumsi Pemerintah dalam APBN-P masih tetap konservatif pada US$105 per barel. Berdasarkan proyeksi harga minyak futures contracts dan mekanisme penyesuaian harga BBM yang baru saja di sahkan DPR, skenario baseline dalam laporan ini mengasumsikan harga BBM subsidi akan dinaikkan di kuartal tiga 2012," katanya.

Shubham mengatakan, mengurangi risiko fiskal serta subsidi BBM juga memberikan kesempatan berharga untuk mengarahkan kembali belanja Pemerintah dalam jangka menengah kepada kebutuhan pembangunan yang lebih mendesak dan untuk meningkatkan efisiensi belanja.

Meski demikian, lanjut dia, dari sisi keberlanjutan fiskal, meningkatnya defisit anggaran masih dapat dikendalikan karena posisi utang awal Indonesia cukup baik.

Namun, lanjut dia, di sisi lain risiko defisit anggaran melewati batas tiga persen dari PDB dapat menyebabkan pengurangan belanja dalam bidang prioritas pembangunan.

"Tingginya tingkat ketidakpastian dan kesulitan dari pendekatan yang digunakan dalam penyesuaian harga BBM juga mempengaruhi inflasi dan outlook kebijakan makro terhadap investor," ujar dia.

Shubham mengatakan, secara politis, keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM menggambarkan kesempatan yang hilang atau tertunda untuk mengarahkan kembali belanja pada saat resiko masih bersifat global.

"Masih buruknya perkembangan ekonomi global tetap menjadi risiko utama," ujar dia.

Ia menambahkan, risiko tekanan di pasar keuangan yang bersumber dari negara-negara kawasan Eropa dapat menjalar ke Indonesia masih tetap ada, dikarenakan kerentanan investor asing di pasar ekuitas dan obligasi Pemerintah.

sumber : MICOM
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    1 hari yang lalu

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen