Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » Kejiiiiii .... Para Santri Hancurkan Sejumlah Patung

Kejiiiiii .... Para Santri Hancurkan Sejumlah Patung

Senin, 19 September 2011 12:09

PURWAKARTA - Massa dari kalangan santri tiba-tiba mengamuk, merusak, dan merobohkan beberapa patung yang menjadi simbol kebanggaan warga Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Yang dirobohkan seperti patung Gatot Kaca, Semar, Dharma Kusumah, dan Bima. Aksi massa yang menjurus pada tindakan anarkistis pada Minggu (18/9) tersebut juga nyaris merobohkan sejumlah patung lainnya, seperti Kresna dan Kiansantang.

Namun, aksi tersebut berhasil dicegah aparat Polres Purwakarta dibantu petugas dari unsur TNI, OKP, dan ormas.

Diperoleh keterangan, aksi massa tersebut dipicu pernyataan-pernyataan beberapa pendakwah saat
menggelar istigosah di Masjid Agung, Purwakarta.

Massa Robohkan Patung di Purwakarta

Ratusan orang mengamuk dan merobohkan patung Gatotkaca dan Semar di Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (18/9/2011).

Stasiun televisi MetroTV melaporkan, sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Masyarakat Peduli Purwakarta itu merobohkan patung tokoh pewayangan itu pada tengah hari. Mereka menilai keberadaan patung tersebut tidak sesuai dengan identitas masyarakat Purwakarta yang religius.

Massa yang marah merusak patung dengan menggunakan tali, kapak, dan palu. Mereka juga membakar patung-patung tersebut. Sedikitnya 300 anggota keamanan menjaga aksi tersebut, tetapi polisi kewalahan menghalau aksi massa.

Tahun lalu, patung Bima di Purwakarta juga dirusak dalam aksi unjuk rasa oleh Forum Ulama Indonesia (FUI) Kabupaten Purwakarta. Alasan perusakannya pun sama, yakni tidak sesuai dengan citra regilius di kota tersebut. 

Patung Dinilai Tak Sesuai Aspirasi Masyarakat

Massa dari sejumlah kecamatan di Purwakarta, Jawa Barat, merusak sejumlah patung di beberapa sudut kota itu, Minggu (18/9/2011). Belum diketahui motif perusakan tersebut, tetapi pada aksi serupa sebelumnya massa menolak pembangunan patung-patung karena dinilai menghamburkan anggaran dan tak sesuai aspirasi masyarakat.

Hari ini, massa seharusnya menggelar halalbihalal di Situ Buleud Purwakarta. Namun, panitia halalbihalal merasa "dihalangi" dengan adanya blokade dari kepolisian dan militer di beberapa jalan menuju lokasi halalbihalal.

Salah satu panitia, Toto Taufik, mengatakan, umat Islam marah atas sikap aparat daerah yang kurang aspiratif dan terkesan represif terhadap kelompok yang akan menyampaikan pendapatnya. Hal itu antara lain ditunjukkan kepada kelompok yang kurang setuju atas pembangunan patung. 

 Empat Patung Dirusak dan Dibakar

 Empat patung di kota Purwakarta, Jawa Barat, rusak setelah dirobohkan dan dibakar massa di Purwakarta, Minggu (18/9/2011) siang.

Patung-patung tersebut adalah patung Bima di Jalan Ibrahim Singadilaga, serta patung Semar di pertigaan Bunder-Mekargalih Jatiluhur, pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Kapten Halim, serta di pertigaan Kapten Halim dan Jalan RE Martadinata.

Massa diduga berasal dari mereka yang hari ini berencana menggelar tabligh akbar di Kawasan Situ Buleud, Purwakarta. Menurut informasi dari panitia, jemaah tak bisa masuk ke Situ Buleud karena sejumlah jalan menuju lokasi diblokade dan pada saat yang sama ada acara jalan sehat yang juga dipusatkan di Situ Buleud.

Perusakan ini merupakan yang kesekian kali sejak Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi membangun patung di titik-titik strategis kota. Namun, oleh sejumlah kalangan, kebijakan itu dinilai kurang aspiratif, tidak mencerminkan karakter warga, dan menghamburkan anggaran.

Patung-patung Dijaga Polisi dan Tentara

Massa pengunjuk rasa sudah bubar, tetapi polisi dan tentara masih terlihat berjaga di sekitar sejumlah patung di kota Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (18/9/2011) sekitar pukul 15.30. Aparat mengantisipasi kemungkinan datangnya massa ke patung-patung yang telah diincar.

Hari ini tiga patung dirusak dan dibakar massa di Purwakarta, yakni patung Bima, Gatotkaca, dan Semar. Perusakan patung itu merupakan ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Bahtiar Ujang Purnama, ada lima titik patung yang diincar, termasuk dua patung lain, yakni patung Nakula dan Arjuna. Polisi mengantisipasi berulangnya perusakan serupa dengan menjaga patung-patung tersebut.

Perusakan dipicu oleh perbedaan persepsi mengenai patung. ”Pemerintah daerah menggunakan perspektif budaya, sementara pihak yang kontra atas kebijakan itu menggunakan perspektif agama. Belum ada titik temu hingga kini,” kata Bahtiar.

Aksi massa sempat menghambat arus lalu lintas di jalan-jalan utama kota, antara lain Jalan Ibrahim Singadilaga, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kapten Halim, dan Jalan Jenderal Sudirman. Namun, sejak pukul 14.00, massa berangsur meninggalkan pusat kota.


Situasi Purwakarta Kondusif

Situasi Kota Purwakarta, Jawa Barat, tetap kondusif. Tapi, perusakan patung-patung tersebut menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat di wilayah itu.

"Perusakan patung terjadi secara tiba-tiba oleh segerombolan orang," ujar Muhtar, seorang warga Jalan Baru lokasi sebuah patung wayang Bima dihancurkan massa.

Patung Gatot Kaca dan Semar yang berdiri tegak di perempatan Comro dan Sasakbeusi juga hancur dirusak massa.

"Massa sepertinya marah karena tanpa dikomando mereka langsung melakukan perusakan patung," ujar Mulyana, seorang warga yang mengaku melihat aksi perusakan patung Semar di Sasakbeusi.

Awal bulan puasa lalu, sebuah patung wayang yang bertengger di perempatan Jalan Tengah, kota Purwakarta juga dibakar massa.

sumber : MICOM, Kompas
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen