Mengabdi Negri Lewat Jalur Pendidikan dan Media
Home » » Penyidik Antasari Bantah Intervensi Visum Nasrudin Hasil Mun'im Idris

Penyidik Antasari Bantah Intervensi Visum Nasrudin Hasil Mun'im Idris

 Kamis, 22/09/2011 21:09

Jakarta - Dalam kesaksiannya di sidang permohonan Peninjauan Kembali (PK) kasus Antasari Azhar, ahli forensik RSCM, dr Mun'im Idris menyampaikan bahwa penyidik mengintervensi hasil visum et repertum jenazah Nasrudin Zulkarnaen dengan menuliskan peluru dan jenis senjatanya. Namun, penyidik membantah keras pernyataan Mun'im tersebut.

Seorang penyidik kasus Antasari yang enggan disebutkan namanya, kepada wartawan mengakui jika pihaknya pernah menemui Mun'im terkait hasil visum tersebut. "Jadi sebenarnya, itu pertanyaan, bukan permintaan penghapusan hasil visum (tulisan peluru dan senjata)," kata penyidik itu saat ditemui wartawan di ruangannya
di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (22/9/2011).

Disampaikannya, ketika hasil visum diterima pihak penyidik, penyidik kaget karena Mun'im sudah berani menuliskan kaliber peluru dan senjatanya. Saat itu, penyidik khawatir, bila ternyata apa yang dituliskan (mengenai peluru dan senjata api) Mun'im dalam visum itu berbeda dengan penemuan penyidik di lapangan.

"Karena kan kita saat itu belum tahu senjatanya apa yang digunakan si pelaku. Senjata baru diketahui kan setelah pelakunya tertangkap dan yang menggali senjata itu kan pelakunya sendiri, bukan penyidik. Nah ini  kan nanti penyidikan bisa bubar kalau saat itu Mun'im sudah menyatakan jenis senjatanya apa dan kaliber pelurunya berapa," jelasnya.

Dijelaskan penyidik itu, alasan pihaknya mempertanyakan mengapa Mun’im menuliskan ukuran peluru dan senjata pada visum, karena Mun’im dianggap bukan ahli balistik. Menurutnya, Mun’im sebagai ahli forensik, hanya menjelaskan penyebab kematian korban.

"Beliau (petugas labfor) menanyakan, ‘loh dok, bagaimana bisa menyimpulkan kaliber 38 mm jenis (senjata) S&W, ini kan belum ditemukan senjatanya?’ Lalu ditanya lagi, ‘apa dokter tidak melebihi kewenangannya, padahal untuk menentukan kaliber itu kan ada alatnya sendiri’," kata dia.

"Kalau penyebab kematian, kepala pecah dan kemudian (menjelaskan) kematiannya ya nggak apa-apa," ujar dia.

Dikatakan penyidik itu, pertanyaan penyidik dan petugas labfor itu kemudian didebat oleh Mun’im. Mun’im tetap bersikukuh untuk menuliskan ukuran peluru dan senjatanya dalam hasil visum et repertum.

"Dokter menjawab, ‘nggak bisa, itu tetap kewenangan saya, apapun itu bentuknya, masih kewenangan dokter forensik’ dia bilang gitu. ‘Sama kaya racun di tubuh’ katanya,” sambung penyidik.

Ia melanjutkan, forensic juga sempat menanyakan bagaimana Mun’im bisa mengetahui tentang jenis senjata. Lalu, dijawab Mun’im, “Pada saat itu dia bilang, ‘saya tahu, karena pernah mengikuti pendidikan dasar tentang balistik."

Mendengar jawaban Mun’im itu, kata penyidik, petugas forensik lalu tidak menghiraukannya lagi. “Dengan jawaban itu, petugas forensik jawab, ‘oh kalau begitu ya sudah’,” tutur penyidik.

Lebih jauh, penyidik itu mengatakan, hingga berkas penyidikan sampai ke kejaksaan, hasil kesimpulan pada visum et repertum yang dikeluarkan Mun’im tidak pernah diubah. “Jadi ya, sampai di jaksa, visum itu ya tetap seperti itu (terdapat tulisan ukuran peluru dan senjatanya),” tutup penyidik itu.

Adapun, kesimpulan visum et repertum yang dikeluarkan Mun’im Idris tertanggal 30 Maret 2009 adalah sebagai berikut:

"Pada mayat laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tahun ini didapatkan 2 (dua) buah luka tembak masuk pada sisi kepala sebelah kiri, kerusakan jaringan otak serta perdarahan dalam rongga tengkorak serta 2 (dua) butir anak peluru yang sudah tidak utuh. Sebab matinya orang ini akibat tembakan senjata api yang masuk dari sisi kepala sebelah kiri: berdasarkan sifat lukanya kedua luka tembak tersebut merupakan luka tembak jarak jauh; peluru pertama masuk dari arah belakang sisi kepala sebelah kiri dan peluru yang kedua masuk dari arah depan sisi kepala sebelah kiri. Diameter kedua anak peluru tersebut 9 (Sembilan) millimeter dengan ulir ke kana; hal mana sesuai dengan peluru yang ditembakkan dari senjata api caliber 0.38, tipe S&W."

sumber : detik
Share this article :

What's time

Visitor Today

Twitter

Bimbingan Belajar

Computer Courses

Topik Pilihan

Good News

Ada 6 Kunci Mencapai Lingkungan Pendidikan yang Ideal

Siswa DLC sedang mengikuti kursus English at DLC “ Leiden is Lijden” . Pemimpin itu menderita. Adalah sebuah pernyataan yang diungkapka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Yayasan Arjawa Bhakti Persadha - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen